Minggu, 12 Desember 2010

Goodbye My Love

Akemi's Food

Ponsel Morie melantunkan lagu khasnya, sehingga membuat Morie terbangun dan segera meraih ponselnya. Nomor telepon flat bibi Akemi terlihat jelas di layar ponselnya.

"Pagi bibi, Ada apa menelponku?" Sapa Morie ketika ponselnya tertempel di telinganya.
"Kau dimana Morie? Kau tidak pulang semalam?" Tanya bibi Akemi khawatir.
"Aku di rumah sakit sekarang. Maaf bibi, aku lupa mengabarimu kemarin."
"Apa?? Kau sakit apa?" Jerit bibi Akemi.
"Aku tidak apa-apa. Kata dokter, aku hanya kurang istirahat. Tenang saja bibi, nanti siang aku akan pulang, aku ingin makan masakan khas bibi Akemi tercinta. Hehe." Jelas Morie sambil bercanda.
"Syukurlah kau tidak apa-apa. Baiklah, aku akan memasak makanan kesukaanmu. Cepat sembuh sayang."
"Terima kasih bibi.. Muah.." Senyum Morie mengembang. Meskipun bibi Akemi bukanlah keluarga kandungnya, tapi bibi Akemi lah yang menjaganya ketika dia tiba di Kyoto.

Selesai mengobrol dengan bibi Akemi di telepon, dia segera bangun dan mandi. Setelah 20 menit berada dalam kamar mandi, dia keluar dan memberesakn semua barang-barangnya lalu membangunkan Ayaka dan Mitsuo yang tertidur di sofa.

"Hai kalian, bangunlah. Aku ingin pulang sekarang!" Morie setengah berteriak dari depan tempat tidurnya.
"Hoam.. Aku masih mengantuk." Keluh Mitsuo.
"Cepatlah!"
"Iya. Aku mandi dulu." Ayaka bermalas-malasan.

Menunggu Ayaka dan Mitsuo beres-beres, Morie duduk di sofa rumah sakit sambil memandang ke arah jendela. Suasana Kyoto untuk hari ini sangat cerah. Pasti sangat panas, keluh Morie dalam hati. Hampir 1 jam menunggu, akhirnya mereka berdua telah siap untuk mengantar Morie pulang ke flatnya.

"Suster, pasien di kamar 302 ingin check-out hari ini." Kata Mitsuo ketika mengurus adminstrasi.
"Oh. Baiklah, dokter juga telah mengizinkannya pulang hari ini." Kata suster setelah mengotak-atik komputer di depannya.
"Terima kasih suster." Ucap Mitsuo sambil tersenyum.
"Sama-sama Sensei." Balas suster itu.

Dalam beberapa menit, mereka bertiga telah berada dalam mobil Mitsuo. Mereka tidak berbicara sama sekali, hanya keheningan yang mengisi ruangan mobil itu, sampai akhirnya mereka tiba di flat Morie.

"Datanglah kesini nanti malam. Bibi Akemi akan memasakkan makanan untuk kita makan malam nanti. Ok." Ajak Morie kepada Mitsuo dan Ayaka.
"Baiklah, dengan senang hati." Ayaka menyetujui.
"Aku tidak janji." Respon Mitsuo.
"Ada apa?" Tanya Morie dan Ayaka secara bersamaan. Mitsuo secara refleks memandang ke Morie dan Ayaka secara bergantian.
"Hahaha.. Kalian, sampai bersamaan. Aku ingin ke Tokyo siang nanti, mengerjakan proyek yang kemarin tertunda." Jelas Mitsuo singkat.
"Hmm.. Ya sudah. Semoga proyekmu di Tokyo cepat selesai." Morie menanggapi dengan muka yang sedih.
"Aku akan berusaha pulang nanti malam untuk kalian. Ok." Rayu Mitsuo.
"Baiklah!" Kompak Morie dan Ayaka kembali.
 
Mitsuo hanya memandang mereka berdua dan segera mengajak Ayaka untuk pulang. Dalam waktu beberapa detik, Mitsuo dan Ayaka sudah tidak terlihat.

****

Setelah Mitsuo dan Ayaka meninggalkan Morie, dia masuk untuk beristirahat sebentar. Dia berbaring di sofa permanen dekat jendela yang ada di dalam kamarnya. 20 menit berbaring, pintu flanya diketuk.

"Morie, bagaimana keadaanmu?" Tanya bibi Akemi.
"Masuklah bibi! Aku tidak apa-apa. Hanya butuh istirahat. Bibi ada perlu apa?"
"Bibi hanya mengecek keadaaanmu, tadi bibi mendengar suara temanmu. Mereka akan datang nanti malam?"
"Ayaka sudah pasti datang, dia adalah penggemar setia masakan bibi." Rayu Morie.
"Kamu bisa saja. Aku mendengar suara pria tadi, siapa dia? Pacarmu?"
"Bibi.. Dia hanya temanku, baru beberapa hari yang lalu aku mengenalnya." Jelas Morie singkat.
"Dia akan datang?"
"Mungkin, dia sedang sibuk. Jadi dia belum tentu datang."
"Hmm.. Baiklah, bibi akan memasak untuk kalian. Istirahatlah. Ok!"
"Ok bibi.. Bye.." Morie segera menutup pintu flatnya dan kembali ke sofa kesayangannya.

****

Pukul 18.45 Ayaka tiba di flat Morie. Dia langsung masuk, karena dia memiliki 1 buah kunci flat Morie begitu pula dengan Morie, dia memiliki kunci kamar Ayaka. Ayaka pun segera menemui sahabatnya di sofa kamarnya. Ayaka telah mengenal Morie sejak 8 tahun yang lalu. semua kebiasaan sahabatnya telah diketahuinya, termasuk kebiasaannya tidur di sofa kesayangannya.

"Morie, kau tidur?" Tanya Ayaka dengan pelan ketika melihat sahabatnya terbaring lemas.
"Hmm.. Kau sudah datang?"
"Ya. Baru beberapa detik yang lalu. Kau belum mandi?"
"Sudah. Tadi aku sangat pusing, makanya aku berbaring di sini."
"Tadi aku mencium wangi masakan khas bibi Akemi, pasti lezat." Kata Ayaka yang segera duduk ketika Morie beranjak dari tidurnya.
"Haha.. Perutku sudah tidak sabar mencicipi masakan bibi Akemi." Kata Morie sambi memegang perutnya.

****

Pukul 19.00, bibi Akemi mengetuk pintu flat Morie. Masakannya telah siap untuk di santap, tapi Mitsuo tidak memberikan tanda bahwa dia akan datang untuk makan bersama malam ini. Itu berarti, makan malam kali ini masih seperti biasanya. Makan malam para wanita, karena suami bibi Akemi telah pergi menghadap Tuhan ketika Morie 2 tahun menetap di Kyoto.

"Morie.. Cepatlah ke flat bibi. Makanan telah siap.." Bibi Akemi setengah teriak dari luar.
"Baiklah bi.. Aku dan Ayaka segera menyusul.." Teriaknya dari ruang tv yang sekaligus ruang tamunya.

Setelah beberapa detik Morie dan Ayaka telah tiba di flat bibi Akemi yang sangat bersih dan tertata.

"Hmm.. Sepertinya lezat.." Gumam Ayaka saat masuk ke flat bibi Akemi.
"Pastinya, yang masak bibi Ayaka." Pujian Morie lontarkan.
"Wow, ada ayam panggang, mie ramen special sea food, cumi goreng balado, dan ikan lemon. Sedap.." Ayaka menyebutkan satu persatu menu yang ada di atas meja.
"Duduklah! Jangan menatapnya saja. Bibi tahu, kalian sudah kelaparan mencium aromanya." Sahut bibi Akemi yang sedang membawa air minum dari dapur.
"Sayang sekali Mitsuo tidak bisa datang, padahal makanannya sangat enak. Bibi juga tidak bisa melihatnya sekarang, padahal aku ingin mengenalkannya pada bibi. Mitsuo adalah cinta pertama Ayaka loh bi." Celotehan Morie saat bibi Akemi duduk di sebelahnya.
"Oh ya?? Benar itu Ayaka??" Tanya bibi Akemi yang kaget dengan pernyataanku tadi.
"Hehe.. Iya, dia pacarku ketika aku masih sekolah dulu." Jelas Ayaka singkat.
"Haha.. Bisa kebetulan ya. Dia sudah punya pacar sekarang?" Tanya bibi Akemi sekali lagi yang masih tidak menyangka suatu kebetulan itu.
"Kita belum tahu bi. Ayaka pun masih mencintainya. Hehe.." Ledek Morie.
"Ya sudah, nanti kita lanjutkan lagi gosipnya. Sekarang waktunya kita untuk makan. Ok. Aku sudah lapar." Ayaka menghentikan topik semula.

Mereka bertiga makan semua makanan dengan lahap. Ketika mereka sedang makan, pintu flat bibi Akemi diketuk oleh seseorang.

"Sebentar.." Teriak Morie dari dalam.
"Aku tidak terlambat kan?" Tanya Mitsuo ketika Morie membuka pintu.
"Mitsuo... Katanya kau tidak bisa hadir??" Morie keget.
"Aku menyelesaikan semua urusan siang tadi dan ternyata aku diperbolehkan untuk pulang. Tapi, minggu depan aku harus di sana selama beberapa minggu." Jelas Mitsuo singkat. "Boleh aku masuk?? Aku sangat lapar!!" Lanjut Mitsuo.
"Oh iya. Masuklah!" Morie mempersilahkan Mitsuo masuk dan bergabung di acara makan malam mereka.
"Siapa yang datang?" Tanya bibi Akemi.
"Mitsuo..."
"Apa? Mitsuo? Bukankah dia sedang di Tokyo?" Ayaka memotong pembicaraan Morie.
"Aku sudah pulang. Semua urusanku telah selesai untuk hari ini, jadi tidak perlu menginap di Tokyo." Mitsuo menjawab pertanyaan Ayaka.
"Hmm.. Gabunglah bersama kami di sini, pasti kau lapar setelah perjalanan jauh dari Tokyo." Ajak bibi Akemi.
"Terima kasih bibi." Ucap Mitsuo dan dia pun segera duduk di samping Ayaka ketika Morie memberikan ruang di meja bundar itu untuknya.

Mereka berempat menikmati pesta kecil-kecilan itu. Pesta yang tadinya adalah pesta para wanita, kini menjadi pesta makan malam yang spesial. Bibi Akemi sangat senang dengan suasana yang hangat seperti ini. Dia sangat kesepian ketika suaminya meniggalkannya dan di saat bersamaan Morie pun sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk sering-sering melaksanakan pesta kecil-kecilan seperti ini. Makanan telah habis disantap lalu mereka melanjutkan dengan menonton dan mengobrol sambil bercanda. Hal itu membuat Morie sangat senang, meskipun sesekali dia merasa pusing. Tetapi dia tidak menunjukkan rasa sakit itu di hadapapn orang yang dia sayangi.

****

Sabtu, 11 Desember 2010

Goodbye My Love

302

Waktu sudah menunjukkan pukul 14.25, itu artinya sudah 25 menit Morie tidak sadarkan diri. Ayaka merasa sangat bersalah telah membuat Morie frustasi.

"Maaf nona, anda keluarga pasien?" Tanya dokter yang datang membawa hasil laporan kesehatan Morie.
"Iya, saya saudaranya. Tolong jelaskan, dia sakit apa?" Pinta Ayaka.
"Morie hanya kurang istirahat, dia banyak pikiran, dan sepertinya dia belum makan hari ini. Jadi tubuhnya lemah. Dia juga kelelahan, dan dia kurang darah. Sebaiknya, untuk 3 hari kedepan dia harus istirahat total." Jelas dokter kepada Ayaka.
"Terima kasih Sensei. Aku akan menyuruhnya makan saat dia sadar nanti."
"Baiklah, aku harus meninggalkan kalian. Ada pasien yang harus aku periksa." Dokter meninggalkan ruangan Morie.

Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Ayaka makin merasa bersalah. Sahabatnya sakit karena memikirkan semua perkataannya.

"Ayaka, aku haus. Ambilkan aku air!" Pinta Morie yang mengejutkan Ayaka.
"Kau sudah sadar? Syukurlah kau tidak apa-apa. Aku akan memberikanmu minum. Tunggu sebentar!" Setelah beberapa detik, Ayaka membawa segelas air mineral dan sepiring roti gulung kesukaan Morie yang sengaja dibawanya ketika Morie tiba di rumah sakit tadi.
"Makanlah! Dokter menyuruhmu makan."
"Kau sudah tidak marah lagi padaku?" Tanya Morie setelah meminum setenggak air mineral itu.
"Aku tidak marah padamu. Tapi, aku akan marah jika kau tidak mau memakan roti ini. Makanlah!"
"Baiklah." Hening seketika. 
"Maafkan aku Ayaka, aku sudah membuatmu kecewa." Morie membuka pembicaraan setelah memakan roti gulungnya.
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Aku membuatmu seperti ini. Maafkan aku!"
"Sudahlah, kau sahabat terbaikku. Jadi, kau tak pernah bersalah di mataku."
"Hmm.. Terima kasih Morie. Aku sangat beruntung memiliki sahabat yang sangat menyayangiku."
"Sama-sama Ayaka." Morie memeluk Ayaka yang sangat merasa bersalah.

Ponsel Morie melantunkan lagu khasnya, dia segera meraih ponselnya. Dia melihat nama Mitsuo di layar ponselnya dan memberitahu Ayaka.
"Angkatlah!" Ayaka menyuruh Morie.
"Hallo, ada apa?" Kata Morie ketika mengangkat telepon dari Mitsuo.
"Kau ada di rumah?"
"Oh.. Aku sedang di rumah sakit.."
"Apa? Apa yang terjadi denganmu?" Mitsuo memotong pembicaraan Morie.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya kurang istirahat. Kau ingin ke rumahku? Ada apa?"
"Hmm.. Aku ingin membawakan mie ramen kesukaanmu. Kebetulan aku sedang di restoran yang kemarin."
"Datanglah ke rumah sakit malam ini, kita makan bersama dengan Ayaka. Ok."
"Baiklah. Nanti aku akan kesana. Cepat sembuh Morie. Sampai berjumpa nanti malam. Sampaikan salamku untuk Ayaka."
"Ok. Bye-bye." Mengakhiri pembicaraannya dengan Mitsuo.

****

Jam dinding menunjukkan pukul 19.00, Ayaka tertidur dan Mitsuo tidak kunjung datang. Morie hanya mengotak-atik ponselnya dan sesekali melihat ke luar melalui jendela yang ada di kamar rumah sakit itu. Sepertinya udara malah ini sangat sejuk, pikirnya dalam hati yang sudah mulai bosan dengan kesepian rumah sakit. Morie ingin pulang dan menemui bibi Akemi, biasanya  bibi Akemi memasak untuk Morie ketika dia sakit dan sekarang dia sangat ingin makan masakan bibi Akemi. Ketika memikirkan semua keinginannya, ponselnya melantunkan lagu khasnya.

"Kau di kamar berapa?" Tanya Mitsuo terengah-engah.
"Aku di kamar 302. Cepatlah! Aku sudah kelaparan menunggumu. Ayaka pun sampai tertidur."
"Tidak sampai 5 menit, aku akan sampai di kamarmu."
"Mengapa napasmu terengah-engah?" Tanya Morie saat menyadari Mitsuo sangat sulit mengatur napasnya.
"Tidak apa-apa. Aku sedikit berlari ketika sampai di depan rumah sakit."
"Mengapa kau berlari? Ada yang mengejarmu?"
"Di luar gerimis, jadi aku agak berlari. Aku takut masuk angin. Proyekku masih banyak" Jelasnya singkat. Mitsuo memang sangat menjaga kesehatannya, karena dia adalah seorang arsitek dan sekarang dia sedang merancang salah satu apartemen termewah di kawasan kota Tokyo.
"Hmm.. Aku pikir kau dikejar orang gila. Hahaha..." Canda Morie.
"Dasar kau. Ya sudah. Bye-bye."
"Bye-bye." Morie mengakhiri.

3 menit kemudian, Mitsuo membuka pintu kamar. Dia membawa 2 kantong plastik, sepertinya dia membawa mie ramen dan makanan kecil lainnya.

"Hai.. Mukamu pucat sekali." Mitsuo mengamati Morie.
"Jangan melihatku seperti itu. Bangunkan Ayaka, biar kita makan sekarang. Aku sangat lapar." Kata Morie dengan ketus.
"Ayaka, bangunlah. Kita makan bersama."
"Hmm.. Kau sudah datang?"
"Baru 2 menit yang lalu. Cucilah mukamu!!"

Beberapa detik kemudian Ayaka keluar dari kamar mandi. Mereka bertiga segera memakan mie ramen yang hampir dingin itu, tapi tidak mengurangi kelezatannya. Sesekali mereka bercanda. Mereka menikmati malam yang panjang itu. Cuaca Kyoto pun sangat mendukung untuk mereka bercerita sampai larut malam.

"Hari minggu nanti, aku akan memberikan kejutan kepadamu." Kata Ayaka kepada Morie ketika mereka ingin tidur.

****

Rabu, 01 Desember 2010

Goodbye My Love

Problem

Ponsel Morie melantunkan lagu yang tidak asing lagi di telinganya ketika dia membuka pintu flat-nya, dengan cepat dia mengangkat telepon dari Ayaka.

"Hai, ada apa menelpon ku?" Tanya Morie.
"Tidak apa. Aku hanya ingin menelponmu."
"Aneh sekali kau ini."
"Kau baru pulang?"
"Iya. Aku baru saja membuka pintu flat-ku ketika kau menelpon. Kau belum tidur?"
"Kau suka padanya?" Tanya Ayaka tiba-tiba dan membuat Morie terkaget-kaget.
"Apa?? Aku suka sama siapa?" Morie kembali bertanya karena tidak mengerti maksud pertanyaan dari Ayaka tadi.
"Tidak usah pura-pura Morie. Pasti kau jatuh cinta pada Mitsuo!" Ayaka menuduh Morie.
"Oh, jadi Mitsuo maksudmu.." Belum sempat meneruskan, Ayaka menyela pembicaraannya.
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia?"
"Kau salah besar Ayaka. Mana mungkin aku jatuh cinta pada orang yang baru aku kenal?" Kesal Morie.
"Kau tipe orang yang mudah jatuh cinta Morie, jadi bisa saja kau jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mitsuo."
"Terserah padamu Ayaka. Aku tidak pernah mencintai Mitsuo. Apalagi, aku tahu kau mencintainya."
"Bulshit semuanya." teriaknya sambil menutup teleponnya.

Morie sangat kesal dengan tuduhan Ayaka yang tidak-tidak. Dia selalu berusaha memahami kondisi temannya, mungkin dia terlalu lelah hari ini, gumamnya dalam hati. Tetapi, dia tetap merasa keberatan dengan argumen yang tidak beralasan yang dikeluarkan oleh Ayaka. Memikirkan hal itu membuatnya tidak bisa tertidur pulas. Sehingga membuat kepalanya sakit.

****

"Kau tidak perlu datang ke Sakura Book hari ini." Sms itu dibaca oleh Morie ketika dia bangun pagi. Sepertinya Ayaka mengirimkan sms itu saat dia tertidur. Setelah membaca sms dari Ayaka dia segera mandi dan berangkat ke Sakura Book.

"Untuk apa kau ke sini?" Sambut Ayaka ketika Morie masuk ke Sakura Book.
"Aku merasa tidak melakukan semua tuduhan yang kau katakan semalam. Jadi kau tidak ada alasan untuk marah padaku."
"Aku sama sekali tidak marah padamu Morie. Aku hanya ingin memastikan kau benar-benar tidak melakukan itu."
"Jadi kau tidak percaya denganku? Ok. Aku akan pergi dari hidupmu sekarang juga." Kata Morie dengan nada kesal dan meninggalkan Ayaka di Sakura Book sendirian.
Morie keluar dari Sakora Book. Dia berlari di bawah matahari kota Kyoto yang menusuk di kulit. Dia pergi ke taman di tengah kota yang dekat dari Sakura Book. Dia sangat kecewa terhadap sikap Ayaka yang sangat kekanak-kanakan.
Ketika dia berdiri di dekat bunga-bunga yang berwarna-warni, dia melihat buram di sekelilingnya. Kepalanya berputar-putar, membuat badannya yang mungil jatuh seketika.

****

Morie Keluar dari Sakura Book, Ayaka merasa sangat bersalah atas sikapnya terhadap Morie. Mungkin memang benar yang dikatakan oleh Morie, gumamnya dalam hati. Setelah beberapa menit kemudian, Ayaka memutuskan mengikuti Morie yang entah ingin kemana. Setelah berjalan selama berjam-jam dia melihat Morie berdiri di sekitar bunga yang beragam warna. Ketika berjalan mendekati Morie, Ayaka melihat sahabatnya jatuh ke tanah. Dia pun segera menolongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.

****

Goodbye My Love

The Second Dinner

Tidak henti-hentinya Ayaka memuja-muja Mitsuo, pria bertubuh tinggi tegap, mata yang agak sipit dan berwarna coklat bergaris biru, serta rambut yang agak panjang dan berantakan. Sepertinya Ayaka masih mengharapkan Mitsuo menjadi kekasihnya seperti dulu.

"Andai waktu itu dia tidak pindah ke Korea, pasti kami akan tetap bersama hingga sekarang." Khayal Ayaka membuka pembicaraan dalam perjalanan yang sepi, setelah makan malam bersama dengan Mitsuo.
"Kau masih mencintainya?" Tanya Morie penasaran.
"Mungkin.. Dia cinta pertama ku Morie, meskipun waktu itu aku hanya manganggapnya cinta monyet."
"Hmm.. Kenapa kau tidak menanyakannya langsung tentang kelanjutan statusmu kepadanya?"
"Aku ingin melakukannya, tapi aku takut jika dia telah memiliki kekasih yang baru."
"Tidak ada salahnya kan jika kau mencoba?"
"Baiklah, akan ku kumpulkan semua keberanianku untuk melakukan itu."
"Pasti kau berhasil." Morie menyemangati Ayaka dan memeluk sahabat terdekatnya itu.

Mereka berpisah ketika Ayaka sampai di depan lorong menuju rumahnya, sedangkan Morie masih harus berjalan untuk sampai ke flatnya.

****

"Morie, jaketmu!!" Teriak bibi Akemi~tetangga terdekat Morie.
"Terima kasih bibi." Katanya ketika mengambil jaketnya dari bibi Akemi.
Morie berjalan menuju Sakura Book, dia harus bekerja lebih keras hari ini karena pengunjung semakin ramai. Dia tidak habis pikir, orang-orang Jepang amat sangat rajin untuk mengerjakan tugas mereka. Padahal, musim panas merupakan liburan yang sangat dinantikannya.

"Ohayo Ayaka." Menyapa Ayaka yang sedang sibuk menghitung dan mengamati buku-buku baru yang dikirim oleh salah satu penerbit
langganan Sakura Book.
"Ohayo Morie." Jawabnya tanpa melihat ke arah Morie.
"Buku baru? Mengapa datang hari ini? Bukannya kau meminta dikirim bulan depan?"
"Sepertinya mereka salah kirim, tetapi semua buku-buku ini pesananku minggu kemarin."
"Oh.. Kau sudah menelpon managernya?"
"Belum, dari tadi teleponnya tidak diangkat. Mungkin hari ini mereka tutup."
"Lalu, bagaimana kau bisa mengetahuinya?"
"Aku akan mengunjungi mereka dan mengembalikan buku-buku ini nanti siang. Ku harap kau mau menjaga Sakura Book sampai malam tanpaku!" Kata Ayaka yang bersiap-siap membereskan buku-buku yang berantakan di bawah meja kasir.
"Baiklah, apa boleh buat? Aku akan menjaga Sakura Book sampai malam tanpa dirimu." Kata Morie sambil meletakkan buku yang berserakan ke dalam kotak yang akan dibawa oleh Ayaka.

****

Jam dinding menunjukkan pukul 19.57, pengunjung telah pergi. Hanya keheningan yang menemaninya. Dia segera membersihkan badan di toilet setelah membalikkan papan "BUKA" menjadi "TUTUP". Ketika membuka pintu toilet, ponselnya melantunkan lagu Never Let You Go-nya Janice. Dia pun segera mengurungkan niatnya untuk ke toilet.

"Konbanwa.." Terdengar suara di balik telepon itu.
"Konbanwa.. Ini siapa?" Tanya Morie kepada penelpon yang tidak terdaftar di handphone-nya.
"Ini Mitsuo. Kau di Sakura Book?"
"Oh.. Kau. Iya, aku masih di Sakura Book. Kenapa?"
"Aku ingin mengembalikan buku, tetapi aku melihat tulisan "TUTUP" di pintu Sakura Book."
"Oh itu. Aku lelah, jadi aku memutuskan untuk menutup lebih awal. Sekarang kau di luar?"
"Iya.. Bukalah pintunya sekarang."
"Baik. Tunggu sebentar!"
"Baiklah.." Mitsuo membalikkan badan dan melihat Morie yang sedang menggenggam ponselnya.

Morie segera membuka pintu dan membiarkan Mitsuo masuk.

"Masuklah. Taruh saja buku itu di dalam laci itu." Kata Morie, menunjuk ke arah laci yang di maksudnya.
"Ok. Kau mau kemana?" Tanya Mitsuo ketika melihat Morie berjalan menuju ke arah belakang Sakura Book.
"Aku ingin ke toilet dan membersihkan badan sebentar. Tunggulah di situ beberapa menit!" Morie setengah berteriak untuk memberi tahu Mitsuo.

Setelah beberapa menit, Morie keluar dan segera mengambil tas yang di bawanya, serta mengenakan jaketnya.
"Kau mau pulang sekarang? Tidak menunggu Ayaka?"
"Aku lapar. Ingin makan, jadi aku malas menunggunya. Tapi, aku akan menelponnya nanti."
"Mau makan malam bersamaku?" Tanya Mitsuo yang mengagetkan Morie, dia tidak menyangka Mitsuo akan mengajaknya makan malam.
"Ha? Memangnya kau tidak sibuk?"
"Kalau aku sibuk, aku tidak akan mengajakmu. Mau tidak?" Tanya Mitsuo sekali lagi.
"Baiklah, karena aku sudah kelaparan, aku menerima ajakanmu." Morie menerima ajakan Mitsuo dan segera meninggalkan Sakura Book.

****

"Sebaiknya kau menelpon Ayaka sekarang!" Mitsuo memecahkan keheningan dalam mobil sedan hitam miliknya, setelah beberapa menit tidak ada suara sedikitpun di mobilnya..
"Oh iya. Hampir Saja aku lupa menelponnya." Katanya sambil mengeluarkan ponsel dari tasnya dan segera menekan nomor telepon Ayaka. Beberapa detik kemudian, terdengar suara Ayaka.

"Kau sudah pulang?" Tanya Ayaka.
"Iya, aku lapar jadinya aku pulang. Ini sedang bersama Mitsuo. Aku akan makan malam bersamanya. Kau sudah pulang?"
"Oh.. Iya, aku di rumah sekarang. ternyata buku itu bukan untuk kita. Haha.."
"Ya sudah. Istirahatlah, jangan sampai kau jatuh sakit." Kata Morie dan langsung menutup telepon.

Setelah beberapa menit dalam mobil, mereka pun sampai pada restoran yang sangat ramai, tapi tetap membuat Morie bersemangat karena perutnya telah bernyanyi-nyanyi dari tadi. Mereka pun segera masuk dan memesan makanan kesukaan mereka masing-masing. Dalam hitungan menit, pesanan diantar oleh pelayan restoran itu dan mereka menikmati makan malam itu dengan lahap.

****