Problem
Ponsel Morie melantunkan lagu yang tidak asing lagi di telinganya ketika dia membuka pintu flat-nya, dengan cepat dia mengangkat telepon dari Ayaka.
"Hai, ada apa menelpon ku?" Tanya Morie.
"Tidak apa. Aku hanya ingin menelponmu."
"Aneh sekali kau ini."
"Aneh sekali kau ini."
"Kau baru pulang?"
"Iya. Aku baru saja membuka pintu flat-ku ketika kau menelpon. Kau belum tidur?"
"Kau suka padanya?" Tanya Ayaka tiba-tiba dan membuat Morie terkaget-kaget.
"Iya. Aku baru saja membuka pintu flat-ku ketika kau menelpon. Kau belum tidur?"
"Kau suka padanya?" Tanya Ayaka tiba-tiba dan membuat Morie terkaget-kaget.
"Apa?? Aku suka sama siapa?" Morie kembali bertanya karena tidak mengerti maksud pertanyaan dari Ayaka tadi.
"Tidak usah pura-pura Morie. Pasti kau jatuh cinta pada Mitsuo!" Ayaka menuduh Morie.
"Oh, jadi Mitsuo maksudmu.." Belum sempat meneruskan, Ayaka menyela pembicaraannya.
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia?"
"Iya, siapa lagi kalau bukan dia?"
"Kau salah besar Ayaka. Mana mungkin aku jatuh cinta pada orang yang baru aku kenal?" Kesal Morie.
"Kau tipe orang yang mudah jatuh cinta Morie, jadi bisa saja kau jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mitsuo."
"Kau tipe orang yang mudah jatuh cinta Morie, jadi bisa saja kau jatuh cinta pada pandangan pertama pada Mitsuo."
"Terserah padamu Ayaka. Aku tidak pernah mencintai Mitsuo. Apalagi, aku tahu kau mencintainya."
"Bulshit semuanya." teriaknya sambil menutup teleponnya.
Morie sangat kesal dengan tuduhan Ayaka yang tidak-tidak. Dia selalu berusaha memahami kondisi temannya, mungkin dia terlalu lelah hari ini, gumamnya dalam hati. Tetapi, dia tetap merasa keberatan dengan argumen yang tidak beralasan yang dikeluarkan oleh Ayaka. Memikirkan hal itu membuatnya tidak bisa tertidur pulas. Sehingga membuat kepalanya sakit.
"Bulshit semuanya." teriaknya sambil menutup teleponnya.
Morie sangat kesal dengan tuduhan Ayaka yang tidak-tidak. Dia selalu berusaha memahami kondisi temannya, mungkin dia terlalu lelah hari ini, gumamnya dalam hati. Tetapi, dia tetap merasa keberatan dengan argumen yang tidak beralasan yang dikeluarkan oleh Ayaka. Memikirkan hal itu membuatnya tidak bisa tertidur pulas. Sehingga membuat kepalanya sakit.
****
"Kau tidak perlu datang ke Sakura Book hari ini." Sms itu dibaca oleh Morie ketika dia bangun pagi. Sepertinya Ayaka mengirimkan sms itu saat dia tertidur. Setelah membaca sms dari Ayaka dia segera mandi dan berangkat ke Sakura Book.
"Untuk apa kau ke sini?" Sambut Ayaka ketika Morie masuk ke Sakura Book.
"Aku merasa tidak melakukan semua tuduhan yang kau katakan semalam. Jadi kau tidak ada alasan untuk marah padaku."
"Aku sama sekali tidak marah padamu Morie. Aku hanya ingin memastikan kau benar-benar tidak melakukan itu."
"Aku merasa tidak melakukan semua tuduhan yang kau katakan semalam. Jadi kau tidak ada alasan untuk marah padaku."
"Aku sama sekali tidak marah padamu Morie. Aku hanya ingin memastikan kau benar-benar tidak melakukan itu."
"Jadi kau tidak percaya denganku? Ok. Aku akan pergi dari hidupmu sekarang juga." Kata Morie dengan nada kesal dan meninggalkan Ayaka di Sakura Book sendirian.
Morie keluar dari Sakora Book. Dia berlari di bawah matahari kota Kyoto yang menusuk di kulit. Dia pergi ke taman di tengah kota yang dekat dari Sakura Book. Dia sangat kecewa terhadap sikap Ayaka yang sangat kekanak-kanakan.
Ketika dia berdiri di dekat bunga-bunga yang berwarna-warni, dia melihat buram di sekelilingnya. Kepalanya berputar-putar, membuat badannya yang mungil jatuh seketika.
****
Morie Keluar dari Sakura Book, Ayaka merasa sangat bersalah atas sikapnya terhadap Morie. Mungkin memang benar yang dikatakan oleh Morie, gumamnya dalam hati. Setelah beberapa menit kemudian, Ayaka memutuskan mengikuti Morie yang entah ingin kemana. Setelah berjalan selama berjam-jam dia melihat Morie berdiri di sekitar bunga yang beragam warna. Ketika berjalan mendekati Morie, Ayaka melihat sahabatnya jatuh ke tanah. Dia pun segera menolongnya dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar