Minggu, 12 Desember 2010

Goodbye My Love

Akemi's Food

Ponsel Morie melantunkan lagu khasnya, sehingga membuat Morie terbangun dan segera meraih ponselnya. Nomor telepon flat bibi Akemi terlihat jelas di layar ponselnya.

"Pagi bibi, Ada apa menelponku?" Sapa Morie ketika ponselnya tertempel di telinganya.
"Kau dimana Morie? Kau tidak pulang semalam?" Tanya bibi Akemi khawatir.
"Aku di rumah sakit sekarang. Maaf bibi, aku lupa mengabarimu kemarin."
"Apa?? Kau sakit apa?" Jerit bibi Akemi.
"Aku tidak apa-apa. Kata dokter, aku hanya kurang istirahat. Tenang saja bibi, nanti siang aku akan pulang, aku ingin makan masakan khas bibi Akemi tercinta. Hehe." Jelas Morie sambil bercanda.
"Syukurlah kau tidak apa-apa. Baiklah, aku akan memasak makanan kesukaanmu. Cepat sembuh sayang."
"Terima kasih bibi.. Muah.." Senyum Morie mengembang. Meskipun bibi Akemi bukanlah keluarga kandungnya, tapi bibi Akemi lah yang menjaganya ketika dia tiba di Kyoto.

Selesai mengobrol dengan bibi Akemi di telepon, dia segera bangun dan mandi. Setelah 20 menit berada dalam kamar mandi, dia keluar dan memberesakn semua barang-barangnya lalu membangunkan Ayaka dan Mitsuo yang tertidur di sofa.

"Hai kalian, bangunlah. Aku ingin pulang sekarang!" Morie setengah berteriak dari depan tempat tidurnya.
"Hoam.. Aku masih mengantuk." Keluh Mitsuo.
"Cepatlah!"
"Iya. Aku mandi dulu." Ayaka bermalas-malasan.

Menunggu Ayaka dan Mitsuo beres-beres, Morie duduk di sofa rumah sakit sambil memandang ke arah jendela. Suasana Kyoto untuk hari ini sangat cerah. Pasti sangat panas, keluh Morie dalam hati. Hampir 1 jam menunggu, akhirnya mereka berdua telah siap untuk mengantar Morie pulang ke flatnya.

"Suster, pasien di kamar 302 ingin check-out hari ini." Kata Mitsuo ketika mengurus adminstrasi.
"Oh. Baiklah, dokter juga telah mengizinkannya pulang hari ini." Kata suster setelah mengotak-atik komputer di depannya.
"Terima kasih suster." Ucap Mitsuo sambil tersenyum.
"Sama-sama Sensei." Balas suster itu.

Dalam beberapa menit, mereka bertiga telah berada dalam mobil Mitsuo. Mereka tidak berbicara sama sekali, hanya keheningan yang mengisi ruangan mobil itu, sampai akhirnya mereka tiba di flat Morie.

"Datanglah kesini nanti malam. Bibi Akemi akan memasakkan makanan untuk kita makan malam nanti. Ok." Ajak Morie kepada Mitsuo dan Ayaka.
"Baiklah, dengan senang hati." Ayaka menyetujui.
"Aku tidak janji." Respon Mitsuo.
"Ada apa?" Tanya Morie dan Ayaka secara bersamaan. Mitsuo secara refleks memandang ke Morie dan Ayaka secara bergantian.
"Hahaha.. Kalian, sampai bersamaan. Aku ingin ke Tokyo siang nanti, mengerjakan proyek yang kemarin tertunda." Jelas Mitsuo singkat.
"Hmm.. Ya sudah. Semoga proyekmu di Tokyo cepat selesai." Morie menanggapi dengan muka yang sedih.
"Aku akan berusaha pulang nanti malam untuk kalian. Ok." Rayu Mitsuo.
"Baiklah!" Kompak Morie dan Ayaka kembali.
 
Mitsuo hanya memandang mereka berdua dan segera mengajak Ayaka untuk pulang. Dalam waktu beberapa detik, Mitsuo dan Ayaka sudah tidak terlihat.

****

Setelah Mitsuo dan Ayaka meninggalkan Morie, dia masuk untuk beristirahat sebentar. Dia berbaring di sofa permanen dekat jendela yang ada di dalam kamarnya. 20 menit berbaring, pintu flanya diketuk.

"Morie, bagaimana keadaanmu?" Tanya bibi Akemi.
"Masuklah bibi! Aku tidak apa-apa. Hanya butuh istirahat. Bibi ada perlu apa?"
"Bibi hanya mengecek keadaaanmu, tadi bibi mendengar suara temanmu. Mereka akan datang nanti malam?"
"Ayaka sudah pasti datang, dia adalah penggemar setia masakan bibi." Rayu Morie.
"Kamu bisa saja. Aku mendengar suara pria tadi, siapa dia? Pacarmu?"
"Bibi.. Dia hanya temanku, baru beberapa hari yang lalu aku mengenalnya." Jelas Morie singkat.
"Dia akan datang?"
"Mungkin, dia sedang sibuk. Jadi dia belum tentu datang."
"Hmm.. Baiklah, bibi akan memasak untuk kalian. Istirahatlah. Ok!"
"Ok bibi.. Bye.." Morie segera menutup pintu flatnya dan kembali ke sofa kesayangannya.

****

Pukul 18.45 Ayaka tiba di flat Morie. Dia langsung masuk, karena dia memiliki 1 buah kunci flat Morie begitu pula dengan Morie, dia memiliki kunci kamar Ayaka. Ayaka pun segera menemui sahabatnya di sofa kamarnya. Ayaka telah mengenal Morie sejak 8 tahun yang lalu. semua kebiasaan sahabatnya telah diketahuinya, termasuk kebiasaannya tidur di sofa kesayangannya.

"Morie, kau tidur?" Tanya Ayaka dengan pelan ketika melihat sahabatnya terbaring lemas.
"Hmm.. Kau sudah datang?"
"Ya. Baru beberapa detik yang lalu. Kau belum mandi?"
"Sudah. Tadi aku sangat pusing, makanya aku berbaring di sini."
"Tadi aku mencium wangi masakan khas bibi Akemi, pasti lezat." Kata Ayaka yang segera duduk ketika Morie beranjak dari tidurnya.
"Haha.. Perutku sudah tidak sabar mencicipi masakan bibi Akemi." Kata Morie sambi memegang perutnya.

****

Pukul 19.00, bibi Akemi mengetuk pintu flat Morie. Masakannya telah siap untuk di santap, tapi Mitsuo tidak memberikan tanda bahwa dia akan datang untuk makan bersama malam ini. Itu berarti, makan malam kali ini masih seperti biasanya. Makan malam para wanita, karena suami bibi Akemi telah pergi menghadap Tuhan ketika Morie 2 tahun menetap di Kyoto.

"Morie.. Cepatlah ke flat bibi. Makanan telah siap.." Bibi Akemi setengah teriak dari luar.
"Baiklah bi.. Aku dan Ayaka segera menyusul.." Teriaknya dari ruang tv yang sekaligus ruang tamunya.

Setelah beberapa detik Morie dan Ayaka telah tiba di flat bibi Akemi yang sangat bersih dan tertata.

"Hmm.. Sepertinya lezat.." Gumam Ayaka saat masuk ke flat bibi Akemi.
"Pastinya, yang masak bibi Ayaka." Pujian Morie lontarkan.
"Wow, ada ayam panggang, mie ramen special sea food, cumi goreng balado, dan ikan lemon. Sedap.." Ayaka menyebutkan satu persatu menu yang ada di atas meja.
"Duduklah! Jangan menatapnya saja. Bibi tahu, kalian sudah kelaparan mencium aromanya." Sahut bibi Akemi yang sedang membawa air minum dari dapur.
"Sayang sekali Mitsuo tidak bisa datang, padahal makanannya sangat enak. Bibi juga tidak bisa melihatnya sekarang, padahal aku ingin mengenalkannya pada bibi. Mitsuo adalah cinta pertama Ayaka loh bi." Celotehan Morie saat bibi Akemi duduk di sebelahnya.
"Oh ya?? Benar itu Ayaka??" Tanya bibi Akemi yang kaget dengan pernyataanku tadi.
"Hehe.. Iya, dia pacarku ketika aku masih sekolah dulu." Jelas Ayaka singkat.
"Haha.. Bisa kebetulan ya. Dia sudah punya pacar sekarang?" Tanya bibi Akemi sekali lagi yang masih tidak menyangka suatu kebetulan itu.
"Kita belum tahu bi. Ayaka pun masih mencintainya. Hehe.." Ledek Morie.
"Ya sudah, nanti kita lanjutkan lagi gosipnya. Sekarang waktunya kita untuk makan. Ok. Aku sudah lapar." Ayaka menghentikan topik semula.

Mereka bertiga makan semua makanan dengan lahap. Ketika mereka sedang makan, pintu flat bibi Akemi diketuk oleh seseorang.

"Sebentar.." Teriak Morie dari dalam.
"Aku tidak terlambat kan?" Tanya Mitsuo ketika Morie membuka pintu.
"Mitsuo... Katanya kau tidak bisa hadir??" Morie keget.
"Aku menyelesaikan semua urusan siang tadi dan ternyata aku diperbolehkan untuk pulang. Tapi, minggu depan aku harus di sana selama beberapa minggu." Jelas Mitsuo singkat. "Boleh aku masuk?? Aku sangat lapar!!" Lanjut Mitsuo.
"Oh iya. Masuklah!" Morie mempersilahkan Mitsuo masuk dan bergabung di acara makan malam mereka.
"Siapa yang datang?" Tanya bibi Akemi.
"Mitsuo..."
"Apa? Mitsuo? Bukankah dia sedang di Tokyo?" Ayaka memotong pembicaraan Morie.
"Aku sudah pulang. Semua urusanku telah selesai untuk hari ini, jadi tidak perlu menginap di Tokyo." Mitsuo menjawab pertanyaan Ayaka.
"Hmm.. Gabunglah bersama kami di sini, pasti kau lapar setelah perjalanan jauh dari Tokyo." Ajak bibi Akemi.
"Terima kasih bibi." Ucap Mitsuo dan dia pun segera duduk di samping Ayaka ketika Morie memberikan ruang di meja bundar itu untuknya.

Mereka berempat menikmati pesta kecil-kecilan itu. Pesta yang tadinya adalah pesta para wanita, kini menjadi pesta makan malam yang spesial. Bibi Akemi sangat senang dengan suasana yang hangat seperti ini. Dia sangat kesepian ketika suaminya meniggalkannya dan di saat bersamaan Morie pun sangat sibuk sehingga tidak ada waktu untuk sering-sering melaksanakan pesta kecil-kecilan seperti ini. Makanan telah habis disantap lalu mereka melanjutkan dengan menonton dan mengobrol sambil bercanda. Hal itu membuat Morie sangat senang, meskipun sesekali dia merasa pusing. Tetapi dia tidak menunjukkan rasa sakit itu di hadapapn orang yang dia sayangi.

****

Tidak ada komentar:

Posting Komentar