302
Waktu sudah menunjukkan pukul 14.25, itu artinya sudah 25 menit Morie tidak sadarkan diri. Ayaka merasa sangat bersalah telah membuat Morie frustasi.
"Maaf nona, anda keluarga pasien?" Tanya dokter yang datang membawa hasil laporan kesehatan Morie.
"Iya, saya saudaranya. Tolong jelaskan, dia sakit apa?" Pinta Ayaka.
"Morie hanya kurang istirahat, dia banyak pikiran, dan sepertinya dia belum makan hari ini. Jadi tubuhnya lemah. Dia juga kelelahan, dan dia kurang darah. Sebaiknya, untuk 3 hari kedepan dia harus istirahat total." Jelas dokter kepada Ayaka.
"Terima kasih Sensei. Aku akan menyuruhnya makan saat dia sadar nanti."
"Morie hanya kurang istirahat, dia banyak pikiran, dan sepertinya dia belum makan hari ini. Jadi tubuhnya lemah. Dia juga kelelahan, dan dia kurang darah. Sebaiknya, untuk 3 hari kedepan dia harus istirahat total." Jelas dokter kepada Ayaka.
"Terima kasih Sensei. Aku akan menyuruhnya makan saat dia sadar nanti."
"Baiklah, aku harus meninggalkan kalian. Ada pasien yang harus aku periksa." Dokter meninggalkan ruangan Morie.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Ayaka makin merasa bersalah. Sahabatnya sakit karena memikirkan semua perkataannya.
Setelah mendengar penjelasan dari dokter, Ayaka makin merasa bersalah. Sahabatnya sakit karena memikirkan semua perkataannya.
"Ayaka, aku haus. Ambilkan aku air!" Pinta Morie yang mengejutkan Ayaka.
"Kau sudah sadar? Syukurlah kau tidak apa-apa. Aku akan memberikanmu minum. Tunggu sebentar!" Setelah beberapa detik, Ayaka membawa segelas air mineral dan sepiring roti gulung kesukaan Morie yang sengaja dibawanya ketika Morie tiba di rumah sakit tadi.
"Makanlah! Dokter menyuruhmu makan."
"Kau sudah tidak marah lagi padaku?" Tanya Morie setelah meminum setenggak air mineral itu.
"Aku tidak marah padamu. Tapi, aku akan marah jika kau tidak mau memakan roti ini. Makanlah!"
"Baiklah." Hening seketika.
"Kau sudah sadar? Syukurlah kau tidak apa-apa. Aku akan memberikanmu minum. Tunggu sebentar!" Setelah beberapa detik, Ayaka membawa segelas air mineral dan sepiring roti gulung kesukaan Morie yang sengaja dibawanya ketika Morie tiba di rumah sakit tadi.
"Makanlah! Dokter menyuruhmu makan."
"Kau sudah tidak marah lagi padaku?" Tanya Morie setelah meminum setenggak air mineral itu.
"Aku tidak marah padamu. Tapi, aku akan marah jika kau tidak mau memakan roti ini. Makanlah!"
"Baiklah." Hening seketika.
"Maafkan aku Ayaka, aku sudah membuatmu kecewa." Morie membuka pembicaraan setelah memakan roti gulungnya.
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Aku membuatmu seperti ini. Maafkan aku!"
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu. Aku membuatmu seperti ini. Maafkan aku!"
"Sudahlah, kau sahabat terbaikku. Jadi, kau tak pernah bersalah di mataku."
"Hmm.. Terima kasih Morie. Aku sangat beruntung memiliki sahabat yang sangat menyayangiku."
"Sama-sama Ayaka." Morie memeluk Ayaka yang sangat merasa bersalah.
Ponsel Morie melantunkan lagu khasnya, dia segera meraih ponselnya. Dia melihat nama Mitsuo di layar ponselnya dan memberitahu Ayaka.
"Angkatlah!" Ayaka menyuruh Morie.
"Hallo, ada apa?" Kata Morie ketika mengangkat telepon dari Mitsuo.
"Kau ada di rumah?"
"Oh.. Aku sedang di rumah sakit.."
"Apa? Apa yang terjadi denganmu?" Mitsuo memotong pembicaraan Morie.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya kurang istirahat. Kau ingin ke rumahku? Ada apa?"
"Hmm.. Aku ingin membawakan mie ramen kesukaanmu. Kebetulan aku sedang di restoran yang kemarin."
"Datanglah ke rumah sakit malam ini, kita makan bersama dengan Ayaka. Ok."
"Baiklah. Nanti aku akan kesana. Cepat sembuh Morie. Sampai berjumpa nanti malam. Sampaikan salamku untuk Ayaka."
"Sama-sama Ayaka." Morie memeluk Ayaka yang sangat merasa bersalah.
Ponsel Morie melantunkan lagu khasnya, dia segera meraih ponselnya. Dia melihat nama Mitsuo di layar ponselnya dan memberitahu Ayaka.
"Angkatlah!" Ayaka menyuruh Morie.
"Hallo, ada apa?" Kata Morie ketika mengangkat telepon dari Mitsuo.
"Kau ada di rumah?"
"Oh.. Aku sedang di rumah sakit.."
"Apa? Apa yang terjadi denganmu?" Mitsuo memotong pembicaraan Morie.
"Aku tidak apa-apa. Aku hanya kurang istirahat. Kau ingin ke rumahku? Ada apa?"
"Hmm.. Aku ingin membawakan mie ramen kesukaanmu. Kebetulan aku sedang di restoran yang kemarin."
"Datanglah ke rumah sakit malam ini, kita makan bersama dengan Ayaka. Ok."
"Baiklah. Nanti aku akan kesana. Cepat sembuh Morie. Sampai berjumpa nanti malam. Sampaikan salamku untuk Ayaka."
"Ok. Bye-bye." Mengakhiri pembicaraannya dengan Mitsuo.
****
Jam dinding menunjukkan pukul 19.00, Ayaka tertidur dan Mitsuo tidak kunjung datang. Morie hanya mengotak-atik ponselnya dan sesekali melihat ke luar melalui jendela yang ada di kamar rumah sakit itu. Sepertinya udara malah ini sangat sejuk, pikirnya dalam hati yang sudah mulai bosan dengan kesepian rumah sakit. Morie ingin pulang dan menemui bibi Akemi, biasanya bibi Akemi memasak untuk Morie ketika dia sakit dan sekarang dia sangat ingin makan masakan bibi Akemi. Ketika memikirkan semua keinginannya, ponselnya melantunkan lagu khasnya.
"Kau di kamar berapa?" Tanya Mitsuo terengah-engah.
"Aku di kamar 302. Cepatlah! Aku sudah kelaparan menunggumu. Ayaka pun sampai tertidur."
"Tidak sampai 5 menit, aku akan sampai di kamarmu."
"Mengapa napasmu terengah-engah?" Tanya Morie saat menyadari Mitsuo sangat sulit mengatur napasnya.
"Tidak apa-apa. Aku sedikit berlari ketika sampai di depan rumah sakit."
"Mengapa kau berlari? Ada yang mengejarmu?"
"Di luar gerimis, jadi aku agak berlari. Aku takut masuk angin. Proyekku masih banyak" Jelasnya singkat. Mitsuo memang sangat menjaga kesehatannya, karena dia adalah seorang arsitek dan sekarang dia sedang merancang salah satu apartemen termewah di kawasan kota Tokyo.
"Hmm.. Aku pikir kau dikejar orang gila. Hahaha..." Canda Morie.
"Dasar kau. Ya sudah. Bye-bye."
"Bye-bye." Morie mengakhiri.
3 menit kemudian, Mitsuo membuka pintu kamar. Dia membawa 2 kantong plastik, sepertinya dia membawa mie ramen dan makanan kecil lainnya.
"Hai.. Mukamu pucat sekali." Mitsuo mengamati Morie.
"Jangan melihatku seperti itu. Bangunkan Ayaka, biar kita makan sekarang. Aku sangat lapar." Kata Morie dengan ketus.
"Ayaka, bangunlah. Kita makan bersama."
"Hmm.. Kau sudah datang?"
"Baru 2 menit yang lalu. Cucilah mukamu!!"
Beberapa detik kemudian Ayaka keluar dari kamar mandi. Mereka bertiga segera memakan mie ramen yang hampir dingin itu, tapi tidak mengurangi kelezatannya. Sesekali mereka bercanda. Mereka menikmati malam yang panjang itu. Cuaca Kyoto pun sangat mendukung untuk mereka bercerita sampai larut malam.
"Hari minggu nanti, aku akan memberikan kejutan kepadamu." Kata Ayaka kepada Morie ketika mereka ingin tidur.
"Kau di kamar berapa?" Tanya Mitsuo terengah-engah.
"Aku di kamar 302. Cepatlah! Aku sudah kelaparan menunggumu. Ayaka pun sampai tertidur."
"Tidak sampai 5 menit, aku akan sampai di kamarmu."
"Mengapa napasmu terengah-engah?" Tanya Morie saat menyadari Mitsuo sangat sulit mengatur napasnya.
"Tidak apa-apa. Aku sedikit berlari ketika sampai di depan rumah sakit."
"Mengapa kau berlari? Ada yang mengejarmu?"
"Di luar gerimis, jadi aku agak berlari. Aku takut masuk angin. Proyekku masih banyak" Jelasnya singkat. Mitsuo memang sangat menjaga kesehatannya, karena dia adalah seorang arsitek dan sekarang dia sedang merancang salah satu apartemen termewah di kawasan kota Tokyo.
"Hmm.. Aku pikir kau dikejar orang gila. Hahaha..." Canda Morie.
"Dasar kau. Ya sudah. Bye-bye."
"Bye-bye." Morie mengakhiri.
3 menit kemudian, Mitsuo membuka pintu kamar. Dia membawa 2 kantong plastik, sepertinya dia membawa mie ramen dan makanan kecil lainnya.
"Hai.. Mukamu pucat sekali." Mitsuo mengamati Morie.
"Jangan melihatku seperti itu. Bangunkan Ayaka, biar kita makan sekarang. Aku sangat lapar." Kata Morie dengan ketus.
"Ayaka, bangunlah. Kita makan bersama."
"Hmm.. Kau sudah datang?"
"Baru 2 menit yang lalu. Cucilah mukamu!!"
Beberapa detik kemudian Ayaka keluar dari kamar mandi. Mereka bertiga segera memakan mie ramen yang hampir dingin itu, tapi tidak mengurangi kelezatannya. Sesekali mereka bercanda. Mereka menikmati malam yang panjang itu. Cuaca Kyoto pun sangat mendukung untuk mereka bercerita sampai larut malam.
"Hari minggu nanti, aku akan memberikan kejutan kepadamu." Kata Ayaka kepada Morie ketika mereka ingin tidur.
****
Tidak ada komentar:
Posting Komentar